|
Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam hubungan Indonesia-AS, termasuk dalam kerangka kemitraan komprehensif yang sedang digulirkan kedua negara. Demikian antara lain ditekankan KUAI KBRI Washington DC, Salman Al Farisi, yang membuka acara Simposium Pendidikan Indonesia 2010 yang diselenggarakan di KJRI Los Angeles (19/6).
Penyelenggaran Simposium, menurut Salman, mempunyai timing yang tepat, karena semangat kerjasama pendidikan dalam kesempatan hubungan bilateral yang sangat baik sekarang ini sangat bermanfaat bagi Indonesia. AS dinilai sebagai mitra strategis Indonesia dalam bidang pendidikan, dalam hal mana perlu dikembangkan berbagai gagasan kreatif yang bukan saja antar pemerintah, namun juga dengan lembaga swasta. Simposium yang melibatkan akademisi Indonesia di wilayah kerja KJRI Los Angeles dan peserta tamu tersebut merupakan yang kedua kalinya, setelah diawali di tahun 2008. Di antara yang hadir adalah para dosen, kandidat doktor atau master Indonesia dari Arizona, Colorado, California Selatan, Hawaii, Montana, Nevada dan Wyoming. Peserta tamu juga hadir mewakili Yale University, New Haven dan Texas University in Austin.
Sebagai empat pemakalah utama adalah Dr. Elwin Tobing (Azusa Pacific University) yang menekankan perlunya education overhaul; Dr. Juliana Wijaya (UCLA) yang mengangkat penekanan bahasa leluhur; Dr. Taruna Ikrar (UC, Irvine), menyangkut strategi pendidikan kedokteran di era global; dan Dr. Wahyu Lestari (Embry-Riddle Aeronautical University) yang menekankan pentingnya inisitatif inovasi dalam bidang aeronetika Indonesia.
Pemikiran-pemikiran yang muncul untuk pengembangan pendidikan bangsa menggarisbawahi perlunya program pertukaran yang lebih intensif di tingkat internasional, perlunya perhatian pada aspek remunerasi tenaga terdidik, perhatian yang lebih besar kepada inovasi melalui penelitian dan pengembangan (R&D) serta sejumlah poin penting lainnya.
Menyangkut peran serta swasta secara khusus mendapat perhatian peserta Simposium. Dalam hal ini, peserta menyadari bahwa dengan keterbatasan angganan nasional, menggantungkan hanya pada peran pemerintah dalam masalah pendidikan dinilai sudah tidak cukup, terlebih-lebih yang terkait dengan R&D.
DR. Elwin Tobing yang di akhir 2009 menerbitkan bukunya "The Indonesian Dream", misalnya, mengetengahkan data statistik trend R&D di berbagai negara. Ditunjukkan bahwa untuk AS, 70,1% sektor R&D ini didanai oleh swasta sedangkan pemerintah hanya 12,2%. Untuk Indonesia, perbandingannya terlihat kontras, yakni hanya 14,3% oleh swasta, sedankan 81,1% pemerintah. Porsi yang lebih besar oleh swasta juga terlihat di Jepang, Korea Selatan, RRC, Singapura, bahkan Malaysia, Filipina dan Thailand.
Peserta sepakat tentang urgensi peningkatan peran serta swasta atau industri, yang bersinergi dengan pemerintah, demi memajukan iklim pendidikan dan inovasi di tanah air. Poin ini juga menjadi penekanan Konjen RI Subijaksono Sujono yang menyampaikan kata penutup di akhir Simposium.
Secara keseluruhan, Simposium satu hari yang diarahkan untuk perkuatan jaringan pendidikan Indonesia di AS itu berlangsung dinamis. Para peserta umumnya memiliki latar belakang keilmuan yang amat beragam, mulai dari bidang spesialis ekonomi makro, kedokteran, kesehatan publik, kajian agama, lingustik, aeronatika, geologi, matematika, kerobotan, hukum serta ilmu-ilmu sains dan sosial lainnya.
Kombinasi keberagaman itu bukan saja menunjukkan besarnya potensi keilmuan akademisi Indonesia di AS, melainkan juga perlunya melakukan pemetaan (brain mapping) dan penyinergian kecerdasan ilmu yang ada secara kontinu untuk kepentingan bangsa.
Bagi KJRI Los Angeles sebagai fasilitator, pelaksanaan Simposium yang kedua kalinyaini bukan saja semakin memperbaiki database dan memperkuat jaringan pendidikan Indonesia di wilayah kerja, tetapi juga saling mempertautkan para akademisi, baik dosen maupun mahasiswa, sebagai kekuatan kolektif yang menjadi ujung tombak promosi citra Indonesia di lingkungan masing-masing.
Penyelenggaraan Simposium dimoderatori Konsul Pensosbud Agusti Anwar dengan kepanitiaan yang didukung aktif oleh PERMIAS Los Angeles. Seluruh peserta menilai Simposium yang memperkuat jaringan pendidikan Indonesia di AS sedemikian ini adalah sangat positif dan perlu diperluas dan dijaga kesinambungannya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Simposium, pada Sabtu malam juga diselenggarakan "Indonesian Education and Cultural NIght" yang dihadiri para profesor dan representatif universitas/lembaga pendidikan di California Selatan serta undangan lainnya. Sedangkan pada hari Minggu, 20 Juni, sejak siang hari sampai petang dilaksanakan penayangan tiga film nasional bertema pendidikan secara maraton, yakni film Denias, King dan Laskar Pelangi. Setelah penayangan diadakan acara tukar pikiran mengenai film dan pendidikan. Acara ditutup dengan penyampaian sertifikat penghargaan pendidikan kepada 12 anak berprestasi. Pemberian penghargaan anak berprestasi juga akan dilakukan kembali dalam rangka HUT RI ke-65 pada 17 Agustus 2010 nanti. (KJRI/Pen) |