Message from the Consul General

Brief message from the Hon. Subijaksono Sujono, Indonesian Consul General in Los Angeles

Visit Indonesia 2008

Check the list of  events and festivals throughout  the year.

Indonesian Community

 Serba-serbi masyarakat Indonesia di wilayah kerja KJRI Los Angeles

Wednesday, 20 August 2008
Home

The Consulate

 
Welcome to the website of the Indonesian Consulate General in Los Angeles. The Consulate covers  the state of Arizona, (Southern) California, Colorado, Hawaii, Montana, Nevada, Utah, Wyoming and a couple of islands in the Pacific.

Other Sites

 

  

   


Simposium Pendidikan Indonesia di Los Angeles PDF Print E-mail

 

Dalam rangka memaknai Hari Pendidikan dan momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-100, KJRI Los Angeles telah melangsungkan acara "Gebyar Pendidikan Indonesia" pada Sabtu, 31 Mei 2008. Acara tersebut dibagi ke dalam dua segmen dengan target hadirin (audience) yang berbeda, yakni berupa Simposium Pendidikan dan Pentas Putera-puteri Indonesia.

 

Acara Simposium Pendidikan mengangkat tema “Membangun Jaringan Pendidikan Indonesia di Amerika”, dengan penekanan khusus di wilayah kerja KJRI Los Angeles. Acara yang didisain lebih menekankan pada ketepatan kualitas daripada kuantitas itu, telah diikuti oleh kalangan akademisi dari California Selatan dan 5 (dari 8) negara bagian lain di wilayah kerja KJRI, anggota Permias Los Angeles dan San Diego, media massa Indonesia setempat, masyarakat umum dan para pejabat/staf KJRI.

  

Simposium yang melibatkan pakar/akademisi yang mewakili negara-negara bagian di wilayah kerja KJRI ini merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan dalam beberapa kurun terakhir, dengan harapan dapat memfasilitasi pembentukan jaringan pendidikan Indonesia yang kuat dan berkesinambungan bersamaan dengan momentum kebangkitan nasional ke-100.

 

Para pembicara yang hadir pada Simposium ini adalah Dr. Merlyna Lim (Arizona State University), Ir. Dedi Sadagori, MSc & Ir. Hendro Fujiono (kandidat doktor Colorado School of Mines), Dra. Margaretha Sudarsih, MA (Colorado University at Boulder), Ir. Hernani Yulinawati, MURP (kandidat doktor University of Hawaii at Manoa), Heru Hendarto, MD (alumnus University of Utah), dan Dr. Hertanto Adhidarma (University of Wyoming, Laramie). Sedangkan dari wilayah California Selatan adalah Prof. Dr. Taufik (California State Polytechnic Un iversity), Dr. Juliana Wijaya (University of California Los Angeles), Dr. Elwin Tobing (California State University Fullerton), Dr. Muhamad Ali (University of California Riverside), Dr. I Nyoman Wenten (California Institute of the Arts)  dan Ir. Akmal Aulia, MSc (Kandidat doktor San Diego State University). Wakil-wakil dari Montana dan Nevada tidak ada.

 

Bersama ke-13 profesor/akademisi ini juga hadir Dr. Harris Iskandar (Atdikbud KBRI Washington DC) sebagai nara sumber perkembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai penambah keberagaman dalam Simposium yang dipandu Konsul Pensosbud KJRI Los Angeles, Agusti Anwar, ini juga hadir sebagai pembicara tamu Ketua INTI Eddie Lembong yang sedang berkunjung.  

 

Dalam sambutan pembukaan Simposium, Konjen RI Subijaksono Sujono menekankan pentingnya andil kaum akademis dan cendikiawan Indonesia dalam usaha memajukan kesejahteraan bangsa. Sebagaimana kemerdekaan Indonesia pada awalnya merupakan suatu visi yang dianggap sulit untuk dicapai oleh para pendiri bangsa, namun visi yang dicetuskan oleh kelompok “Boedi Oetomo” 100 tahun yang lalu berhasil membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk merdeka. Sesuai tema Peringatan Kebangkitan Nasional 2008 “Indonesia Bisa!,” Konjen RI juga mengutip pidato Presiden RI bahwa sejak seratus tahun kebangkitan Indonesia, bangsa Indonesia telah menjadi suatu bangsa yang berkemampuan, suatu “bangsa yang bisa”. Oleh sebab itu, visi para cendikiawan dan akademisi Indonesia yang didukung oleh kemampuan nalar yang terlatih dan terdidik juga mempunyai kesem patan besar untuk bisa tercapai. Juga dipaparkan kemajuan-kemajuan di bidang pendidikan Indonesia pasca diberlakukannya Renstra Pendidikan tahun 2005 – 2009. Konjen RI menutup sambutannya dengan mengajak para akademisi dan cendikiawan yang hadir untuk tidak jemu-jemu untuk menghasilkan visi yang berguna bagi masa depan bangsa.

 

Dr. Harris Iskandar dalam paparannya tentang perkembangan pendidikan nasional mengakui bahwa bidang pendidikan Indonesia masih banyak kendala dan masih dalam proses trial and error, baik dalam aspek akses, mutu dan produktivitas ekonomi. Kendati mutu dinilai masih tertinggal dari negara-negara lain, namun digarisbawahi bahwa dalam urusan kemampuan (otak), banyak putra-putri Indonesia yang berprestasi dalam kompetisi tingkat internasional.

 

 Pembentukan jaringan pendidikan di Amerika menurutnya menjadi penting untuk mengoptimalkannya demi kepentingan pengembangan pendidikan Indonesia.  Adapun beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dari jaringan pendidikan demikian adalah seperti sharing informasi kesempatan beasiswa, teaching assistantship, bridging kerjasama kelembagaan, eksposur Indonesia melalui kegiatan akademis maupun budaya, meningkatkan produktivitas penulisan ilmiah yang membawa nama Indonesia dan sebagainya.

 

Dalam pembahasan yang berkembang, cukup banyak gagasan dan pemikiran yang relevan dalam rangka membangun jaringan pendidikan Indonesia ini, baik dalam konteks konsepsi, resources maupun langkah-langkah tindak lanjut lainnya. Digarisbawahi bahwa relevansi pembentukan jaringan pendidikan Indonesia adalah sebagai peluang untuk bersaing secara kolektif dengan negara-negara lain (Korea, Jepang, China dsb), dengan pendekatan yang multi-pronged termasuk unsur akademisi, industri, individual (misalnya para dermawan) dan pemerintah. Peserta menekankan perlunya resources mapping dalam pembentukan jaringan ini; dengan mengidentifikasi lembaga-lembaga pendidikan yang telah memberikan perhatian kepada Indonesia sebagai langkah awal untuk membentuk jaringan lebih besar. Sebagai contoh, di Hawaii, setidaknya terdapat institusi University of Hawaii at Manoa, Hawaii Pacific University, Brigham Young University, East West Center, yang memberikan perhatian kepada Indonesia. Demikian pula di berbagai negara bagian AS lainnya.

 

Simposium pendek yang menghadirkan kalangan akademis yang beragam latar belakangnya ini memang terlihat sangat dinamis. Sebagai hasil penting dari pertemuan pertama ini adalah kuatnya kesepakatan pembicara/peserta tentang urgensi membangun jaringan pendidikan Indonesia di Amerika untuk mengoptimalkan peluangnya bagi kepentingan Indonesia; perlunya kesinambungan kegiatan melalui jaringan ini baik melalui pertemuan reguler yang lebih luas; perlunya melakukan sharing informasi pendidikan (baik beasiswa, peluang TA, dsb) yang lebih luas, dengan memberikan prioritas kepada mahasiswa Indonesia; perlunya menggali terus peluang bridging kerjasama kelembagaan; perlunya terus melakukan kegiatan-kegiatan riset/akademis maupun kebudayaan di kampus/lembaga masing-masing untuk meningkatkan eksposur Indonesia, termasuk dengan meniru apa yang telah dilakukan di kampus lain; serta perlunya pengembangan kajian Indonesia yang membawa nama Indonesia, termasuk dalam hal patennya.

 

Untuk membangun jaringan ini, para peserta juga sepakat menjadi lingkar pertama (database) yang akan terus diperluas, sehingga jaringan pendidikan Indonesia di Amerika dapat diperkuat, dengan kegiatan yang berkesinambungan. Sebagai bagian dari jaringan pendidikan juga sangat ditekankan perlunya peran aktif Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS).

 

Sementara pada segmen kedua acara Gebyar Pendidikan Indonesia ini dilanjutkan dengan Pentas Putera-puteri Indonesia yang diawali dengan pemutaran film kepahlawanan “Tjoet Nya’ Dhien” (lihat berita terkait).


Secara keseluruhan, acara Gebyar Pendidikan Indonesia dalam rangka memperingati Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional ke-100 ini berlangsung dinamis dan meriah, yang diharapkan mampu memacu semangat kebangkitan bangsa di wilayah kerja KJRI Los Angeles, khususnya di bidang pendidikan.

 

Sebagai tambahan, semua makalah dan artikel pembicara pada Simposium ini akan dimuat di webiste KJRI Los Angeles ini pada kesempatan pertama agar dapat diakses publik secara lebih luas. 

 

 

Berita terkait:

 

 

 

(3/Juni/Pen-KJRI LA/AA)

 

Last Updated ( Tuesday, 10 June 2008 )
 
< Prev   Next >

Indonesian Day 2008

Events

 

 
 

Film Screening

Darmasiswa

Indonesian Cuisine

Who's Online

We have 5 guests online