Message from the Consul General

Brief message from the Hon. Subijaksono Sujono, Indonesian Consul General in Los Angeles

Visit Indonesia 2008

Check the list of  events and festivals throughout  the year.

Indonesian Community

 Serba-serbi masyarakat Indonesia di wilayah kerja KJRI Los Angeles

Saturday, 05 July 2008
Home

The Consulate

 
Welcome to the website of the Indonesian Consulate General in Los Angeles. The Consulate covers  the state of Arizona, (Southern) California, Colorado, Hawaii, Montana, Nevada, Utah, Wyoming and a couple of islands in the Pacific.

Other Sites

 

  

   


Diskusi Panel Film di Los Angeles, Memperkuat Komunitas Film Indonesia PDF Print E-mail

 

 

Pada tanggal 26 April 2008 lalu, sebuah kegiatan diskusi panel tentang perfilman Indonesia telah diselenggarakan di KJRI Los Angeles, yang dihadiri oleh masyarakat perfilman Indonesia dan AS, termasuk para pecinta film pada umumnya.

 

Acara yang mengambil tema "Learning from Hollywood: Prospect for Foreign Films", dimaksudkan sebagai medium untuk mempertemukan dan membangun jaringan perfilman Indonesia di AS, khususnya Los Angeles. Diskusi panel itu sendiri telah menggali berbagai aspek perfilman Indonesia, dengan mengambil perbandingan dari Hollywood sebagai pusat perfilman AS dan dunia.

 

Hadir sebagai panelis dalam diskusi yang dimoderatori Agusti Anwar (Konsul Pensosdik KJRI Los Angeles) adalah Prof. Fatimah Tobing Rony (UC Irvine); Dahlia Setiyawan (kandidat doktor UCLA); Digvijay Singh (Kundalini Pictures), Carlos DeMenezes (Red Umbrella Pictures) dan Wahyu Gusti (Inafilms/Red and White Production). Di antara peserta, hadir pula Jon Turteltaub, produser film "National Treasure" yang dibintangi Nicholas Cage, beberapa filmmakers Hollywood lainnya, di samping Ketua Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya.

 

Diskusi panel telah dibuka oleh Konsul Jenderal RI Subijaksono Sujono yang menggarisbawahi momentum perfilman Indonesia yang saat ini sedang meningkat. Konjen RI menilai hal ini merupakan peluang yang baik untuk mendorong kerjasama perfilman dan pengembangan industri perfilman nasional. Beliau secara khusus menyinggung bagaimana antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film "Ayat-ayat Cinta" (Verses of Love) belakangan ini, yang bahkan ditonton oleh Presiden RI.

 

Konjen RI mengatakan bahwa Indonesia mempunya potensi kerjasama perfilman internasional, bukan saja karena populasinya yang besar (235 juta), tetapi juga karena alam Indonesia yang indah, budaya yang kaya dan keramahtamahan bangsa yang potensil bagi kepentingan lokasi shooting film berkelas internasional. Beliau juga menyatakan kesiapan KJRI Los Angeles untuk membantu para filmmakers Hollywood yang ingin menggali daya tarik Indonesia bagi produksi film layar lebar mereka. 

 

Diskusi yang berkembang cukup produktif, yang memunculkan beberapa pemikiran tentang situasi dan kondisi perfilman Indonesia. Fatimah, misalnya, menilai Indonesia dibanjiri oleh film-film asing sedangkan industri film lokal masih lemah. Untuk mendorong pengembangan perfilman ini diperlukan suatu sistem distribusi, sedangkan penayangan tidak didominasi oleh satu sinema saja. Fatimah menyarankan agar Indonesia meniru Korea dengan mengadakan semacam "film fund", agar mendorong produktivitas perfilman. Ia juga menyinggung kenyataan masih jarangnya studi perfilman di Indonesia, yang hanya ada di bawah Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

 

Para pembahas yang lain menggarisbawahi potensi Indonesia dalam hal lokasi dan kekayaan budaya, pasar penonton film yang besar, universalitas film, termasuk perlunya keberanian untuk menggali hal-hal baru dan kebebasan pembuat film untuk mengambil gambar di manapun.

 

 Jon Turteltaub sebagai produser penting Hollywood, di samping menilai penting kemajuan teknologi dalam industri film, juga mendorong pembuat film Indonesia untuk lebih berani menggali potensi lokal. Poin mengenai perlunya keberanian, bukan hanya sekedar meniru (copycat) apa yang telah ada, mendapat dukungan peserta diskusi berbasis Hollywood lainnya.

 

Ketua Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya dalam sumbang sarannya menyampaikan tentang situasi undang-undang perfilman nasional yang masih terus dalam proses; hal-hal menyangkut lembaga sensor film, masalah komite film dan lainnya. 

 

Secara keseluruhan diskusi panel film tersebut berjalan lancar dan interaktif. Para peserta melihat proses belajar dari pengalaman Hollywood penting nilainya; bukan saja dari hal-hal yang dilakukan, tetapi juga yang tidak dilakukan Hollywood.

 

Pertemuan itu juga telah mempererat hubungan jaringan antara komunitas perfilman Indonesia di Los Angeles  (Inafilms) dan kalangan perfilman Hollywood.

 

(Pen)


Berita terkait:

 


 

Last Updated ( Thursday, 03 July 2008 )
 
< Prev   Next >

HUT RI ke-63

Events

 

 
 
 

Film Screening

Darmasiswa

Indonesian Cuisine

Who's Online

We have 1 guest online